Potret Model Di Dalam dan di Luar Ruangan

1. Gunakan kamera pada posisi ZOOM agar model bisa berada agak jauh dari anda.

2. Jangan menggunakan lensa pada posisi Wide Angle ( lensa lebar ) karena ada akan efek distorsi, model terlihat lebih lebar.

3. Bila memotret model di luar ruangan, usahakan mencari waktu saat sinar matahari masih soft ( 8-10 pagi hari atau 3-5 sore hari ). Hal ini ditandai dengan bayangan di bawah kelopak mata atau hidung serta leher tampak lembut.

4. Gunakan teknik pencahayaan samping, dimana cahaya datang dari sisi kiri atau kanan model.

5. Untuk mengantisipasi sisi model yang tidak terkena cahaya, anda bisa menggunakan teknik fill in light (cahaya pengisi). Teknik fill in light yang sederhana adalah menggunakan kertas putih atau kain putih sebagai reflektor ( media pantul cahaya matahari )

6. Untuk model dengan ukuran tubuh sedang, posisikan kamera pada tengah tengah frame serta tingginya sejajar dengan model.

7. Untuk model dengan ukuran tubuh lebih gemuk atau lebar, usahakan mengambil posisi agak serong kira atau kanan agar model terlihat lebih kurus.

8. Untuk pemotretan model luar ruangan, pilihkan lokasi yang tidak begitu rame dan latar belakang yang lembut sehingga model menjadi tampak dominan. Pemilihan warna background pun diusahakan menghindari warna merah karena warna ini cenderung membuat warna kulit lebih pucat atau bahkan kebiru – biruan.

9. Penjiwaan oleh model sangatlah penting karena akan mempengaruhi aura dari foto yang dihasilkan, usahakan membuat model merasa nyaman dan rileks, umumnya ini akan didapat setelah 30 menit pemotretan.

10. Komunikasi yang baik penting dilakukan agar model tidak kehilangan mood, seperti menyampaikan pose yang kurang bagus, sebaiknya dibangkitkan saja rasa percaya diri sang model dengan berkata “Ok..”, “Bagus..”, “Great.. next pose please… ”

sumber : dari berbagai nara sumber

http://dhodi.multiply.com/journal/item/1

Dipublikasi di potret model | Tinggalkan komentar

foto klasik

Buku Fotografi: Looking At Atget

Looking At Atget
(Source: http://photo.goodreads.com/)

Sebuah buku yang memuat fotografi klasik karya Eugene Atget (1857-1927). Kuno banget ya…, saya tidak bisa membayangkan seperti apa kamera yang dipakai oleh Mbah Atget ini dan proses mencetaknya. Atget mungkin tidak terkenal di masanya, tetapi melihat karya-karya yang dihasilkannya saya jadi terkagum-kagum. Coba bayangkan semasa hidupnya Atget tidak kurang telah membuat foto sebanyak 9000-10.000 foto. Kalau jaman sekarang sih sekali jalan-jalan cari foto bisa memotret ratusan kali.
Saya membayangkan jaman dulu pastilah Mbah Atget ini momotret dengan sangat hati-hati. Memperhitungkan bener objeknya, komposisinya, dan exposure-nya. Setelah melalui proses pencucian dan pencetakan, baru bisa dilihat hasilnya. Biayanya pun pasti cukup mahal untuk ukuran jaman itu.

Dipublikasi di foto klasik | Tinggalkan komentar

teknik fotografi 2

Mengenal Shutter Speed atau Kecepatan Rana

dengan 45 komentar

a.k.a Kecepatan Rana dalam bahasa indonesia . Shutter adalah semacam layer yang menutup sensor . Pada waktu kita men-jepret , Shutter ini akan terbuka selama bbrp waktu sehingga sensor bisa merekam cahaya yang masuk melalui lensa . Durasi pembukaan shutter inilah yang dikenal sebagai Shutter Speed . Logikanya , semakin lama shutter dibuka akan semakin banyak cahaya yang masuk . Dan sebaliknya semakin cepat shutter dibuka maka makin sedikit cahaya yang terekam .

Satuannya detik . Satuannya lebih mudah dipahami ketimbang satuan Aperture . Untuk mengurangi banyaknya cahaya yang masuk menjadi setengah sebelumnya (-1 stop ), waktu Shutter Speed tinggal di bagi 2 . Dan sebaliknya , untuk menambah cahaya menjadi 2x sebelumnya ( +1 stop ) tinggal di kalikan 2 . Pada kamera Nikon D50 , nilai Shutter Speed yang dapat digunakan pada kamera adalah 60 , 32 , 16 , 8 , 4 , 2 , 1s , 1/2 , 1/4 , 1/8 , 1/16 , 1/32 , 1/64 , 1/125 , 1/250 , 1/500 , 1/1000 , 1/2000 , 1/4000 . 1/4000 . Range nilai Shutter Speed pada kamera tipe/merk lain kurang lebih sama . Pada beberapa kamera pro , kecepatannya bisa sampai 1/8000s . Cukup cepat untuk memotret peluru yang melesat !!

Slow Shutter Speed

Teknis dengan menggunakan shutter speed yang rendah ( nilai besar ) . Biasa digunakan pada kondisi kurang cahaya , shutter dibuka lebiiih lama agar kamera dapat mengumpulkan cukup cahaya untuk menghasilkan gambar yg kita inginkan . Jika kita memotret suatu scene dengan beberapa obyek yang bergerak , akan menghasilkan sebuah efek baru yang keren .

Misal memotret lalu lintas di malam hari menimbulkan efek “jalur cahaya” / lightrail . Lampu dari mobil2 yang berseliweran direkam dalam sensor .

Foto by ^sean, on FlickrFoto by ^sean, on Flickr

Dipublikasi di teknik fotografi malam | Tinggalkan komentar

Teknik fotografi malam

//tukangMoto : Belajar Fotografi

my quest for the light … and life

Arsip untuk kategori ‘Teknik Fotografi

Bagaimana Memotret Foto Siluet (Konsep Dynamic Range)

dengan 29 komentar

Sebenarnya sangat mudah , yang perlu kita pahami adalah konsep dynamic range pada fotografi. Salah satu konsep penting yang perlu diketahui oleh setiap newbie yang ingin belajar fotografi.

Apa itu Dynamic Range ?

Dynamic Range dalam fotografi adalah rentang perbedaan gelap dan terang dari sebuah scene. Kamera ternyata mempunyai batas kemampuan menangkap rentang perbedaan tersebut . Kamera Canon EOS 1-D Mark III memiliki dynamic range sekitar 11 stop (link).  Rentang 11 stop itulah yang tertangkap dengan baik detilnya di sensor kamera , di luar itu detilnya akan gelap/black atau washout. Nah , padahal di dunia nyata .. scene yang akan kita foto amat sering memiliki rentang stop lebih dari 11 stop. Misal nih : foto di siang hari kenapa langitnya putih , atau kenapa ketika langitnya biru/detil tapi orang yang difoto jadi gelap ? itu tanda dari efek dynamic range .
Kekurangan itu ada tip / trik untuk mengatasinya . Diantaranya adalah trik High Dynamic Range (HDR) yang sedang populer , penggunaan Gradual ND Filter (seperti foto saya ini) , Multi Exposure . Lain kali lah kita coba diskusi , pokoknya cara kerja dynamic range seperti diatas.

Dynamic RangeDynamic Range

Dipublikasi di teknik fotografi malam | Tinggalkan komentar

Tutorial Penggunaan Kamera Canon EOS 500D

Canon EOS 500D (juga dikenal sebagai Rebel T1i Digital) adalah sebuah kamera digital mid-range SLR yang memiliki fitur video capture HD. 500D bisa juga digunakan untuk merekam Full HD video 1080p berkualitas 720p dan VGA, dan juga merupakan Canon DSLR kedua yang menawarkan rekaman video setelah model profesional 5D Mark II. 500D/Rebel T1i ini menawarkan sejumlah upgrade yang signifikan, termasuk peningkatan dalam resolusi 12-15 megapixel, Fitur Live View ditingkatkan dengan tiga mode yang berbeda. Layar LCD 3 inci dengan 920.000 titik, dan perluasan jangkauan ISO 100-12800. Canon EOS 500D di jual dengan harga $ 799,99 atau $ 899,99 + lensa kit EF-S 18-55mm F3.5-5.6 IS. Canon EOS 500D lebih mahal dari pendahulunya, yang masih ditawarkan sebagai pilihan yang lebih murah.

Kemudahan Penggunaan
Canon EOS 500D hampir identik dengan pendahulunya, EOS 450D, dengan penambahan lubang koneksi HDMI, speaker, mikrofon, mode tombol perak yang mengilap. Dimensi kamera yang persis sama (128,8 x 97,5 x 61,9 mm) dan juga beratnya (480 gr). Pegangan kamera relatif kecil, karena grip tidak terlalu dalam. Canon EOS 500D bisa terlihat lebih mahal dari pada sebenarnya, dan tentu saja cukup padat untuk sebuah DSLR mid-range.
     Pemkaian EOS 500D dengan lensa kit EFS 18-55mm f/3.5-5.6 IS, lensa ini memiliki image stabilization yang merupakan faktor penting mengingat pesaingnya seperti Sony, Olympus dan Pentax menawarkan stabilisasi di DSLR mereka. Perbedaan antara Canon, Nikon dan yang lain adalah bahwa Sony, Olympus, dan Pentax telah memiliki fitur stabilisasi melalui bodi kamera dan juga lensa, Sistem Canon jelas dibatasi oleh lensa yang Anda pilih. Canon dan Nikon juga mengklaim bahwa sistem anti-shake berbasis lensa secara inheren juga lebih baik, Namun Sony dan Pentax masih menjadi pilihan para Photografer.
    Seperti DSLR level entry dan tingkat menengah lainnya, EOS 500D menyediakan sejumlah mode pengambilan gambar otomatis yang diperuntukkan bagi pemula, termasuk potret landscape, close-up, olahraga, potret malam, dan flash off. Tersedia juga manual mode dan semi-otomatis bagi pengguna yang menginginkan kontrol eksposur yang lebih maju.
    Sebagian besar tombol pada 500D terletak di bagian belakang kamera, meskipun besar layar 3 inch, namun tidak membuat tata letak keseluruhan menjadi rumit. Hal ini menawarkan akses cepat ke mode Continuous, Auto Focus, Metering mode, dan Gambar Styles yang dapat diakses melalui tombol controller melingkar.
     Live View di EOS 500D telah sedikit membaik dibandingkan EOS 450D. Jika Anda pemula dan tidak memahami tentang DSLR, pada dasarnya terminologi Live View memungkinkan Anda untuk melihat adegan di depan Anda melaluli layar LCD, bukan melalui jendela bidik optik tradisional. Ini merupakan daya tarik yang jelas bagi pengguna kamera compact.
   Ada tiga jenis fokus sistem yang ditawarkan dalam mode Live View. Yang pertama, Quick AF, bekerja dengan membalik mirror kamera untuk melakukan sensor auto-fokus, yang kemudian menyebabkan layar LCD kosong sesaat dan menimbulkan suara fisik, sebelum foto tersebut ditampilkan sekitar 1 detik. Metode kedua, Live AF, menggunakan sistem kontras gambar auto-fokus. Manfaat utamanya adalah mengurangi kebisingan selama operasi, dan tidak ada pemadaman LCD. Sayangnya ini jauh lebih lambat dibandingkan mode AF dan membutuhkan waktu 3 detik untuk mendefinisikan fokus dengan jelas dalam cahaya terang. Metode ketiga yaitu Face Detection AF, menggunakan sistem kontras auto-fokus yang sama sebagai Live AF, dengan penambahan yang dapat mendeteksi wajah manusia dan mengatur wajah terbesar yang paling dekat ke tengah bingkai sebagai titik AF. Live View juga digunakan untuk fitur pengambilan gambar video full HD 1080p.
    Ukuran maksimum video klip yang dihasilkan adalah 4 gigabyte atau berdurasi sekitar 30 menit. Format Audio yang dihasilkan adalah PCM linear tanpa kompresi apapun. Terdapat built-in microphone di bagian depan kamera untuk merekam suara mono, tapi sayangnya tidak ada soket untuk menghubungkan mikrofon stereo eksternal, seperti pada 5D Mark II. EOS 500D juga memiliki port HDMI untuk memutar ulang video beresolusi 1920 x 1080 namun canon tidak menyediakan kabel HDMI dalam paket penjualannya. Anda juga dapat menghubungkan 500D ke TV standar yang bisa diatur melalui NTSC/PAL. Dengan menawarkan capture video dalam DSLR, para pembuat film bisa bermain dengan cara mereka.
     Canon EOS 500D menggunakan paket LP-E5 baterai yang sama dengan EOS 450D, dengan kapasitas 1080mAh. Hal ini memperluas waktu pengambilan gambar sekitar 350 gambar dan klip video beberapa saat sebelum baterai habis. 500D menggunakan kartu memori SD. Waktu start-up Canon 500D hingga siap untuk mengambil foto sekitar 2 detik.
Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

all about camera

Kamera adalah alat paling populer dalam aktivitas fotografi. Nama ini didapat dari camera obscura, bahasa Latin untuk “ruang gelap”, mekanisme awal untuk memproyeksikan tampilan di mana suatu ruangan berfungsi seperti cara kerja kamera fotografis yang modern, kecuali tidak ada cara pada waktu itu untuk mencatat tampilan gambarnya selain secara manual mengikuti jejaknya. Dalam dunia fotografi, kamera merupakan suatu peranti untuk membentuk dan merekam suatu bayangan potret pada lembaran film. Pada kamera televisi, sistem lensa membentuk gambar pada sebuah lempeng yang peka cahaya. Lempeng ini akan memancarkan elektron ke lempeng sasaran bila terkena cahaya. Selanjutnya, pancaran elektron itu diperlakukan secara elektronik. Dikenal banyak jenis kamera potret.

 

Sejarah Kamera

Kamera berawal dari sebuah alat serupa yang dikenal dengan Kamera Obscura yang merupakan kotak kamera yang belum dilengkapi dengan film untuk menangkap gambar atau bayangan. Pada abad ke 16 Girolamo Cardano melengkapi kamera obscura dengan lensa pada bagian depan kamera obscura tersebut. Meski demikian, bayangan yang dihasilkan ternyata tidak tahan lama, sehingga pemenuan Girolamo belum dianggap sebagai dunia fotografi. Pada tahun 1727 Johann Scultze dalam penelitiannya menemukan bahwa garam perak sangat peka terhada cahaya namun beliau belum menemukan konsep bagaimana langkah untuk meneruskan gagasannya.

Pada tahun 1826, Joseph Nicepore Niepce mempublikasikan gambar dari bayangan yang dihasilkan kameranya, yang berupa gambaran kabur atap-atap rumah pada sebuah lempengan campuran timah yang dipekakan yang kemudian dikenal sebagai foto pertama. Kemudian, pada tahun 1839, Louis Daguerre mempublikasikan temuannya berupa gambar yang dihasilkan dari bayangan sebuah jalan di Paris pada sebuah pelat tembaga berlapis perak. Daguerre yang mengadakan kongsi pada tahun 1829 dengan Niepce meneruskan program pengembangan kamera, meski Niepce meninggal dunia pada 1833, mengembangkan kamera yang dikenal sebagai kamera daguerreotype yang dianggap praktis dalam dunia fotografi, dimana sebagai imbalan atas temuannya, Pemerintah Perancis memberikan hadiah uang pensiun seumur hidup kepada Daguerre dan keluarga Niepce. Kamera daguerreotype kemudian berkembang menjadi kamera yang dikembangkan sekarang

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

11 Lensa Kamera paling Unik

Seorang kolektor kamera pernah mengatakan, “Beli kamera sih tidak sulit, yang bikin bokek itu beli lensanya.” Dengan banyaknya ragam lensa yang tersedia saat ini, termasuk lensa-lensa unik (dan mahal) seperti dalam list ini, perkataan itu tentu ada benarnya.

11. Canon MP-E 65mm f/2.8 Macro 1-5x

147075-canon-direct-store-mp-e-65mm-f-2-8-1-5x-macro-photo-6414-600x400

Fotografi makro adalah salah satu bidang fotografi paling populer, dan lensa Canon MP-E 65 mm f/2.8 Macro 1-5x adalah perangkat makro paling canggih. Lensa ini memiliki kemampuan memotret dengan perbesaran dari 1x (1:1) sampai 5x! Jika Anda ingin melihat geraham semut, lensa ini dapat memungkinkannya.

Harga: Rp9.000.000

Keren *
Eksentrik **
Repot ***

10. Sigma 300-800mm f/5,6 EX DG APO HSM

10-Sigma-300-800

Lensa telephoto ini merupakan lensa moderen dengan beragam feature dan rentang zoom paling lebar di kelasnya. Aperture fix dan Hyper-Sonic Motor menjadikannya lensa yang paling tidak “nyeleneh” dalam list ini.

Harga: Rp65.000.000

Keren **
Eksentrik *
Repot *

9. Nikon 2000mm f/11 Reflex

9-nikon2000mm-600x262

Meskipun memiliki focal length kedua terpanjang dalam list ini, lensa ini termasuk pendek, hanya 600mm. Konfigurasi “reflex” yang memanfaatkan cermin menjadikan lensa ini tidak lebih besar dari lensa Sigma di atas. Namun, dengan bobot 17,5 kg, jangan harap Anda dapat menenteng-nenteng lensa ini dengan nyaman.

Harga Rp190.000.000

Keren ***
Eksentrik **
Repot ***

8. Canon 65mm f/0,75

8-Canon 65mm f0,75

Untuk kondisi pencahayaan yang sangat minim, lensa dengan aperture f/0,75 tentu bermanfaat. Lensa ini memiliki aperture 1 stop lebih besar dari lensa premium yang populer, 50 mm f/1.4. Mungkin, hanya itu satu-satunya manfaat lensa ini karena lensa ini tak memiliki bilah aperture sehingga Anda hanya dapat menggunakan aperture terbesar. Lebih lagi, hasilnya sangat soft.

Harga: –

Keren ***
Eksentrik ***
Repot ***

7. Canon EF 8-15mm f/4L Fisheye USM

7-Canon EF 8-15mm f4L Fisheye USM

Lensa ini adalah lensa paling moderen dalam list ini dan memang hanya mungkin diproduksi dengan teknologi manufacturing yang tersedia saat ini. Dengan elemen-elemen lensa canggih, lensa fish eye ini bukan hanya lensa zoom dengan sudut pandang terlebar, tetapi juga memiliki kualitas gambar yang sangat baik.

Harga: Rp14.000.000

Keren ***
Eksentrik **
Repot *

6. Nikon 6mm f/2.8 Fish eye

6-Nikon 6mm f2.8 Fish eye

Jawara lensa dengan sudut pandang terlebar adalah lensa 6 mm ini dengan sudut pandang 220 derajat. Ini berarti objek di belakang lensa pun akan terekam.

Harga:±Rp30.000.000

Keren ***
Eksentrik ****
Repot ***

5. LEICA APO-TELYT-R 1600 mm f/5.6

5-LEICA APO-TELYT-R 1600 mm f5.6

Lensa ini merupakan lensa termahal saat ini, dengan harga 2 juta dollar atau sekitar 1,8 miliar rupiah. Lensa ini dapat dipasangkan ke DSLR Leica dan kini dimiliki beberapa kolektor Leica.

5-LEICA APO-TELYT-R 1600 mm f5.6-2

Harga: ±Rp1.900.000.000

Keren ****
Eksentrik ****
Repot **

4. Kilfitt Zoomatar 250mm f/1.3

4-Kilfitt Zoomatar 250mm f1.3

Lensa ini tidak memiliki focal length yang luar biasa seperti kebanyakan lensa di atas. Namun, dengan diameter hampir 40 cm, lensa 250 mm ini tetap menonjol. Lensa ini sangat jarang dan pasti sangat merepotkan untuk digunakan. Walau begitu, bokehnya tentu luar biasa.

Harga: ±Rp300.000.000

Keren ****
Eksentrik ***
Repot ****

3. Zeiss 1700 mm f/4 APO Sonnar T*

3-Zeiss 1700 mm f4 APO Sonnar T

Lensa unik ini merupakan pesanan khusus untuk seorang Sheik Arab Saudi. Lensa ini pertama kali diperkenalkan di Photokina 2006 dengan harga yang dirahasiakan. Namun, gosip yang beredar mengatakan bahwa nilai lensa ini mencapai 6 juta euro. Jika benar, maka lensa ini merupakan lensa termahal di dunia, melampaui lensa Leica di atas. Yang pasti, lensa ini merupakan yang terberat, dengan bobot 256 kg!

Harga: ±Rp7.200.000.000

Keren ****
Eksentrik *****
Repot ***

2. Canon 5200 mm f/14 Reflex

2-Canon 5200 mm f14 Reflex

Dengan ukuran dan spesifikasi menyerupai teleskop, lensa ini tentu sangat merepotkan untuk digunakan. Ukurannya menjadikannya sebagai lensa terbesar saat ini dan sangat-sangat langka. Hanya tiga lensa yang pernah diproduksi dan mungkin hanya satu yang masih berfungsi normal. Pamflet lensa ini mengklaim bahwa lensa ini merupakan lensa satu-satunya yang dapat memotret objek berjarak 20-40 km. Lebih luar biasa, dengan DSLR sensor APS-C (seperti Canon 7D), focal length efektifnya meningkat menjadi 8320 mm!

2-Canon 5200 mm f14 Reflex2

Apa Anda bisa menemukan kamera yang terpasang dalam foto ini?

Harga: ±Rp400.000.000

Keren *****
Eksentrik ****
Repot *****

1. Lensa Coffee Cup f/95

1-Lensa Coffee Cup f95

Bukan, ini bukan cangkir kopi yang menyerupai lensa, melainkan sebuah lensa yang menyerupai cangkir kopi. Pembuatnya memodifikasi sebuah cangkir kopi agar dapat dipasangkan ke kamera dan membuat sebuah lapisan pinhole. Lensa ini berfungsi penuh. Namun, dengan hasil yang sangat kabur, viewfinder yang gelap (f/95) dan bentuk yang aneh, satu-satunya alasan penggunaan lensa ini pasti karena ingin “nampang”.

Harga: ±Rp200.000

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar